Umum

Inilah Sisi Lain Akhyar Nasution selain menjadi Plt Walikota Medan

MEDAN | MIMBAR RAKYAT.ID – Usai menumpangi uji coba jalur Buy The Service Bus Rapid Transit (BRT), Plt Walikota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi sempat mengajak makan para undangan dan penumpang di Restoran Sederhana di Jalan Tritura. Usai makan, Akhyar terlebih dahulu berpamitan untuk pergi. Setelah bersalaman, dan Akhyar masuk ke mobil. Setelah mobil berjalan sekitar 500 meter, Akhyar langsung bilang ke ajudan, “Kita ke ladang,”.

Bagaimana kisahnya, berikut perjalanan Akhyar.

Dari Jalan Tritura, mobil yang ditumpangi Akhyar melaju sekira pukul 12.10 tanpa pengawalan menuju ke Desa Tanah Gara Hulu, Kecamatan STM Hulu, Deliserdang. Jalan yang berliku, tanjakan yang meninggi dan pinggiran jurang terus diterabas. Akhirnya sekitar pukul 13.40 sampailah di warung kerabat Akhyar, di warung tempat masuk ke ladangnya yang dibeli pada tahun 2002 lalu.

Sesampainya mobil di warung tersebut, Akhyar langsung turun dari mobil dengan mengangkat tangan kanan, “Kulon Uwon, sehat Mbak yu” kata AKhyar (Assalamualaikum, sehat Kakak). Pemilik warung pun langsung berkelekar, “Wah ues suwi yo gak teko nang ladang,” kata istri pemilik warung (Udah lama ya gak dating ke lading). “Iyo Mbak yu, wes 6 bulan. Ikilah atek delok-delok ladang, sambil guris-guris. Nyileh kamar mandi yo, atek ganti baju yo,” kata Akhyar (Iya Kakak. Sudah enam bulan. Inilah mau lihat-lihat ladang, sambal babat-babat. Pinjam kamar mandi ya, mau ganti pakaian ya,) “Iyo Wes, pakek aja nang kono iku. Alah nyileh-nyileh, segolo. Wes melebu aye,” kata istri pemilik warung. “(Ia sudah, pakai saja di sana itu. Waduh pakai pinjam-pinjam segala. Udah masuk aja). Äkhyar pun senyum-senyum saja sambal jalan ke kamar mandi.

BACA JUGA :   Ketua Umum DKSU : Aspirasi Seniman Terdampak Covid-19 Akan Diteruskan Ke Pemerintah

Selesai ganti baju, Akhyar dengan memakai kaos coklat tangan Panjang dan jalan pendek di bawah lutut, serta memakai sepatu Bot Merk Cat tak lupa memakai topi dan menyandang tas rangsel kecil. Di tempat itu, AKhyar ternyata pinjam sepeda motor trail Klx 150 milik pemilik warung.

“Mbak yu, iso nyilih kereto trail iki,” katanya. (Kakak, bisa pinjam kereta trail ini) “Ya wes, anggo aye, iki kunci ne. Bentar, tak isii bensine,” kata pemilik warung sambil mengisikan minyak satu botol bekas minuman air mineral. (Ya sudah, pakai saja. Ini kuncinya. Bentar diisikan minyak bensin dulu).

Trail KLX langsung dihidupkan oleh Akhyar Nasution. Dalam perjalanan menuju ladang, Akhyar sebentar-sebentar menyapa sejumlah warga menuju ke ladangnya. “Yo Pak Lek, atek ke ladang (Ia Pak, mau ke ladang)” kata AKhyar dari atas Trail KLX. Terkadang ada juga yang mengejar.

“Singgah dulu Yar,” kata warga. “Waduh, ini atek nang ladang, wes sui gak delok ladang (Waduh, ini mau ke ladang, sudah lama gak lihat lading)” jawab Akhyar. “Ohh, ya wes. Atek delok jalan yang digleder iku yo, (ohh, ya sudah. Mau melihat jalan yang diratakan itu ya)” kata warga. “Iyo. Katane uwes atek siap. Ya wes yo lek, pamit nang ladang, (Iya, katanya sudah mau siap. Sudah yang lek, aku izin ke ladang)”jawab Akhyar.

“Sehat-sehat yo Yar, (sehat-sehat ya Akhyar)” jawab warga. “Suwon ya Lek (Terimakasih yang Pak),” jawab Akhyar.

Sekitar 15 menit melaju, Akhyar pun tiba di ladang. Sebelum masuk ke ladang, alat berat sedang meratakan jalan. Sekitar 200 meter lagi selesai. Sekitar 15 menit Akhyar berdialog dengan mandor alat berat, Akhyar pun langsung bergegas ke ladang.

BACA JUGA :   Kapolres Belawan Kunjungi Gubuk Reot Nek Rukiah

Sesampainya di ladang seluas 35 hekater, Akhyar langsung senang. Karena tanaman melinjo, manggis, durian, jengkol, dan pisang tampak sudah mulai membesar. “Pohon-pohon ini akan nikmat nanti dia tas lima tahun lagi, kalau sawit ya gitulah. Makanya banyak saya tumbangi pohon sawit,” ujar Akhyar sambil menunjukkan pohon durian kane.

Ladang yang dimiliki Akhyar tak rata, melainkan menanjak-nanjak, dari satu titik ke titik lainnya harus pakai sepeda motor juga berjalannya. Misalnya dari tanaman karet menuju ke tempat durian, masih bisa ditempuh jalan kaki, tapi saat dari durian ke daerah kebun melinjo dan manggis. Harus naik sepeda motor dan jalan kaki menanjak-nanjak.

“Saya senang kalau di sini. Waktu saya belum Plt, masih sering kemari sama anak-anak istri. Nginap di ladang ini,” ucapnya sembari melayangkan parangnya ke rerumputan yang menjalar pohon melinjo.

Dia menyebutkan, alasannya memilih memperbanyak tanam durian, ini dikarenakan ada banyak kebutuhan durian yang belum dipenuhi dari Sumatera Utara ini. Bahkan, ada seorang eksportir durian di Medan, belum mampu permintaan durian di China. Inilah peluang yang mungkin bisa jadi jangka Panjang. “Kalau di sekitar sini banyak kali pohon sawit. Rata-rata ladangnya ditanami sawit, saya pun sempat diketawai saat menumbangi pohon sawit dan menanam manggis dan durian. Tapi saya diam aja, senyum-senyum,” ceritanya.

Akhyar mengakui, di Kota Medan sebagai ibukota Sumatera Utara saja kebutuhan duriannya sudah sangat besar, bahkan para pedagangnya mencari durian sampai Bengkulu. Jika terus terjadi, maka durian memang sudah menjadi kebutuhan. “Inilah yang membuat niat saya semakin mantap menanam durian. Ya Alhamdulillah sekarang pohon duriannya semakin tumbuh dan membesar. Insya Allah tiga sampai lima tahun lagi mendapatkan hasilnya,” sebutnya.

BACA JUGA :   Sambangi BPN Sumut, Ini Permintaan Warga Tanjung Mulia Hilir Soal Proyek Jalan Tol

Setelah berkeliling dari satu pohon ke pohon lainnya, dan Akhyar pun tampak sudah mulai Lelah. “Pohon jengkol ini liar dan saya biarkan tumbuh. Enak juga rasanya ini, kalau dibakar di sini. Tapi buahnya sudah habis pula,” ucapnya sambal tertawa.

Tiga jam di ladang, Akhyar kembali ke warung. Sesampainya di warung, Akhyar langsung bilang. “Ngeleh iki mbak yu, iso jumuk sendiri iki, (lapar ini kakak, bisa ambil sendiri ini,)” kata AKhyar. “Yo Wes, se karep pe aye jumuk e Yar, (Ya sudah, sesukanya saja ambil ya Akhyar),” jawab pemilik warung.

“Ayo..mangan. Yuk, iki iwak dencis sambal. Enak iki, (Ayo.. makan. Yuk, ini ikan dencis sambal. Enak ini) ”kata Akhyar mengajak sejumlah warga yang duduk di warung. AKhirnya semua pun ikut makan, ada yang makan nasi goreng, nasi ikan dan lainnya. Setelah selesai makan, adzan maghrib berkumandang dan Akhyar pun bergegas menunaikan kewajibannya sebagai umat Islam.

Setelah salat maghrib, Akhyar pun berpamitan pulang ke rumahnya di Medan melalui jalan yang sama yang penuh rintangan.

Sesampai di rumahnya di Jalan Intertip, Akhyar mengaku sudah mendapatkan refreshing yang enak, dan membuat pikirannya kembali segar. “Inilah enaknya pulang dari ladang, badan capek. Pikiran tambah segar, ini langsung tidur enak kali,” ucapnya sambal jalan masuk ke dalam rumah. (*)

Berikan Komentar:
Tags
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: