Opini

Keagamaan dan Kemanusiaan yang Hilang

SEBAHAGIAAN besar manusia adalah makhluk beragama, dimana setiap agama mengajarkan kebaikan, kasih sayang dan kelembutan. Akan tetapi, keagamaan manusia telah menghilangkan kemanusiaan agamanya sehingga tidak jarang kita temui tragedi kemanusiaan yang bengis terjadi.

Diskursus keagamaan dan kemanusiaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dimanapun dan kapanpun serta paling menarik untuk dikaji, sebab kedua hal ini merupakan akal dan hati masyarakat sebagai pembentuk manusia seutuhnya yang hidup dalam ruang dan waktu disertai kemampuan untuk merekonstruksi ruang dan waktu pula.

Namun, selama ini garis waktu pada setiap ruang banyak mencatat pelbagai peristiwa blinger, bengis dan tidak menunjukkan sisi kebaikan dalam diri manusia maupun dari ajaran agama. Sehingga kondisi demi kondisi tersebut menyebabkan nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk dari keagamaan menghilang.

Pada dasarnya keagamaan merupakan ajaran kehidupan manusia yang berisikan kebaikan. Apabila kita bedah, keagamaan memiliki kata dasar agama yang ditambahkan imbuhan untuk menghidupkan sifat dari agama itu sendiri. Agama merupakan kata yang berasal dari dua suku kata a dan gama yang berarti tidak kacau. Oleh sebab itu, keagamaan merupakan pemberian jalur untuk manusia dalam menata kehidupan agar terhindar dari kekacauan, baik itu dalam politik, sosial, ekonomi dan sebagainya. Sedangkan kemanusiaan merupakan penghidupan esensi manusia hendak mengelola akal budi dan hati nurani dengan baik sesuai fitrahnya yang suci, benar dan indah. Sehingga keagamaan dan kemanusiaan berperan sebagai pembeda manusia dengan binatang dan makhluk lainnya serta memposisikan manusia sebagai makhluk bermartabat tinggi.

Seyogyanya pelaku dari keagamaan dan kemanusiaan itu sendiri adalah manusia, sebagai makhluk yang memiliki tendensi membentuk berbagai kemungkinan tentang masa depan melalui nilai dan norma yang termaktub dalam dirinya serta makhluk yang serba terhubung. Manusia membentuk jalur pada ruang dan waktu agar lebih bermoral untuk mengingatkan eksistensi dalam dirinya sebagai makhluk yang sadar, kreatif dan tertinggi dari makhluk lainnya. Konstruksi tersebut merupakan hasil manifest keagamaan dan kemanusiaan.

BACA JUGA :   Memaknai Hari Anak Nasional

Merunut pemikiran Ali Syari’ati tentang kemanusiaan yang menyatakan bahwa manusia merupakan manifestasi Ilahi yang berperan sebagai wakil-Nya di dunia (the representatives of God) sekaligus keluarga-Nya. Syari’ati juga menafsirkan Al-Qur’an dalam konteks sosial yang diawali dengan nama Allah dan diakhiri dengan nama manusia (an-nas). Ka’bah, kiblat umat Islam disebut sebagai rumah Allah, bukanlah dimaksudkan Allah butuh rumah melainkan rumah itu adalah milik semua manusia dan Makkah disebut juga dengan al-bayt al-‘atiq yang artinya adalah kebebasan. Tentu pemikiran Syari’ati tidak bermaksud menyamakan sang Khaliq dengan makhluk ciptaan-Nya, melainkan untuk menekankan bahwa kita adalah manusia yang memiliki nilai dan norma yang telah Allah maktubkan dalam diri, kehendak bebas untuk memilih, dan menjadi pemimpin dari seluruh makhluk.

Sejatinya manusia memiliki hati nurani dan akal budi untuk menciptakan kehidupan penuh kasih sayang, kelembutan, saling berbagi, mengayomi dan mengendalikan nafsu dalam dirinya. Akan tetapi, semua itu hampir musnah dari kehidupan disebabkan kecenderungan manusia mengedepankan nafsu dan hasratnya. Bisa kita lihat dari laporan lembaga survei Gallup pada tahun 2018 yang meneliti 146 negara memperlihatkan bahwa dunia berada pada titik keterpurukan selama lebih dari satu dekade, dimana titik kebahagiaan berada pada titik paling rendah. Selain itu, tragedi-tragedi kemanusiaan masih marak terjadi, seperti di Yaman, Uighur, Gaza, Rohingya, Amerika Tengah, Selandia Baru, Palestina, Indonesia dan berbagai Negara lainnya. Ini menunjukkan bahwa sisi kemanusiaan maupun keagamaan dalam diri manusia benar-benar telah hilang. Binatang saja tidak pernah berbuat demikian, memakan daging sejenisnya pun dilakukan hanya ketika binatang itu sudah mati, bukan membantai kawannya sendiri. Dan atas dasar kondisi seperti ini pula seorang pemikir bernama Nieztche menulis pemikirannya yang kontroversial pada kalangan masyarakat, yaitu “Tuhan Telah Mati”, intinya adalah manusia telah membunuh Tuhan dari pikirannya dan setiap tindakannya, serta melepaskan semua ajaran kebaikan melalui agamanya sehingga gemar melakukan perbuatan yang bengis dan tidak peduli, membantai sesuka hati.

BACA JUGA :   Cegah Penyakit dengan Pola Makan Sehat
Advertisement

Tidak bisa dipungkiri kini pemikiran manusia memang telah berkemajuan, melampaui keterpurukan aktivitas dimasa lampau. Bisa kita lihat dengan perkembangan sains dan teknologi dalam merekonstruksi ruang dan waktu, yang diperuntukkan dalam mempermudah aktivitas kehidupan. Maraknya perlombaan untuk menciptakan teknologi 4.0, robotics, internet of things, rekayasa genetik dan artificial intelegency. Mungkin benar bahwa kemajuan kondisi ini menjadi kabar gembira untuk sebahagian manusia, tapi hanya untuk segelintir, sedangkan sisanya hanya menuai derita dan keterpurukan mendalam.

Menyoal keagamaan sosial, penulis membagi manusia menjadi tiga, yaitu: tidak semua manusia meyakini adanya Tuhan ( atheis ), tidak memeluk agama tapi meyakini adanya Tuhan yang tidak diketahui (agnostik), dan manusia yang memeluk agama serta meyakini Tuhan (theis). Meskipun ada manusia yang meyakini semua ajaran agama dan Tuhan yang dianut setiap agama benar, seperti Rocky Gerung yang meyakini semua kitab suci adalah fiksi nan mengaktifkan imajinasi manusia untuk berbuat kebaikan. Dan dua dari ketiga babakan diatas telah terpengaruh menghilangkan agama dari sisinya, bukan penulis menyebutkan diatas tanpa sebab, namun amati saja seluruh kondisi kehidupan sosial dewasa ini. Manusia di AS, China, Inggris, Izrael dan Negara lainnya bisa tidur nyenyak dan makan dengan enak sedangkan manusia seperti di Palestina harus makan bom hanpir tiap hari.

BACA JUGA :   Waspada Virus Corona, Perbaiki Hubungan Kepada Tuhan YME

Sebahagian besar manusia adalah makhluk beragama, dimana setiap agama mengajarkan kebaikan, kasih sayang dan kelembutan. Akan tetapi, keagamaan manusia telah menghilangkan kemanusiaan agamanya sehinga tidak jarang kita temui tragedi kemanusiaan yang bengis terjadi. Mengingat perkataan seorang ahli bernama Jean Paul Sartre bahwa, “Saya tidak memiliki agama, namun jika harus memilih salah satu, kupilih agamanya Syariati”. Tentu Sartre menyatakan demikian bukan tanpa sebab, namun agama memang selalu mengajarkan kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam berkehidupan. Namun sebahagian besar manusia telah termakan berbagai konspirasi dunia untuk menjauhkan diri dari agama dari sendi-sendi kehidupan.

Implikasinya adalah hilangnya perilaku kasih sayang, saling berbagi, dan mengayomi antar sesama manusia maupun pada binatang dan tumbuhan, serta konsekuensinya adalah keterpurukan berkelanjutan (problem suistanable).

Oleh sebab itu, keagamaan dan kemanusiaan perlu ditanamkan kembali pada diri manusia. Cara paling baik untuk mengembalikannya adalah melalui pendidikan, sehingga benar-benar terbentuk manusia dengan kesadaran seutuhnya yang saling mengasihi, berbagi dan mengayomi.

Al Mukhollis Siagian adalah mahasiswa Universitas Negeri Padang Jurusan Ilmu Administrasi Negara

Advertisement
Berikan Komentar:

Tags
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: