Nasional

PT ADT Tidak Penuhi Panggilan Kedua PN Bobong

TALIABU |  MIMBARRAKYAT.ID – PT Adi Daya Tangguh (ADT) tidak menghadiri panggilan dari Pengadilan Negeri (PN), Bobong dalam sidang ke 2 gugatan perkara perdata sengketa lahan di Desa Tolong, Kecamatan Lede, Kabupaten Pulau Taliabu (Pul-tab), Selasa (5/11/2019) kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun media ini, surat panggilan yang dilayangkan PN Bobong itu merupakan surat kedua dalam hal sidang gugatan perkara perdata warga Desa Tolong, Ladayono terhadap PT ADT yang saat ini menguasai lahan warga dan telah dijadikan pelabuhan, lahan tersebut juga sudah menjadi laut.

Pengacara Ladayono kepada awak media di ruang tamu penginapan Maruf, Kamis, (7/11/2019) mengatakan sidang kedua ini masih dengan agenda sidang mediasi akan tetapi, salah satu pihak belum hadir, dan menurut informasi dari pengadilan bahwa ketidakhadiran salah satu pihak ini khususnya, tergugat satu pihak PT ADT disebabkan alamatnya belum ditemukan, tapi kalau kita berdasarkan dengan alamat yang ada di website itu PT ADT masih di kantor di Jakarta Pusat.

BACA JUGA :   Dandim 0104/Atim Ramaikan Pembukaan Pagelaran Seni di Kota Langsa

“Bagi kami salahkan aja, pihak PT. ADT untuk tidak menghadiri panggilan, itukan mereka punya hak. Tapi bagi kami ketidakhadiran mereka juga menguntungkan kami sebenarnya karena ketika mereka tidak hadir dianggap itu dipengakuan, “ungkapnya.

Kata dia, kalau dalam hukum acara perdata bahwa, kepasifan dan kediaman mereka itu dianggap pengakuan jadi, kalau memang mereka tidak hadir lagi bagi kami tidak jadi masalah justru kami merasa beruntung, dan sidang berikutnya diagendakan pada 26 November 2019 nanti.

BACA JUGA :   Sekda Halsel Shalat Id di Lapangan Samargalila, Secara Simbolis Serahkan Hewan Qurban

Ketika disentil terkait dengan melihat perkembangan proses persidangan di PN Bobong, berapa potensi kemenangan kliennya dalam perkara gugatan perdata terhadap PT. ADT katanya, berdasarkan dengan bukti yang dihitung ia sangat optimis menang dalam perkara gugatan perdata ini karena dari bukti kepemilikan, penguasaan, termasuk juga pengakuan-pengakuan yang di keluarkan oleh pihak PT ADT bahwa lahan yang dijadikan objek pelabuhan khusus.

“Jadi itu adalah milik klien kami, dan mereka juga sudah mengakui itu, memang fakta kemarin itu hanya soal perdebatan persoalan pembayaran ganti rugi dan tidak clearnya itu persoalan pembayaran ganti rugi, berarti ketika sudah mengarah pada perbincangan itu, secara otomatis mereka mengakui bahwa lahan itu milik klien kami, “jelas Fatahila.

BACA JUGA :   Puluhan Kader PMII Halsel Gelar Aksi Unjukrasa Tuntut KPK Bersikap Profesional Dalam Penegakan Hukum

Terserah saja, sambung Fatahilah perusahaan mau datang, tidak datang yang terpenting dengan bukti-bukti kami yang kami persiapkan itu, kami anggap itu sangat kuat.

“Dalam proses ini kami selalu optimis klien kami akan menang, dan kami tidak pernah berpikir klien kami akan kalah, dan jika ada persoalan-persoalan yang akan muncul terkait melemahkan klien kami, intinya kami tidak akan berhenti sampai di sini, “ujarnya. (Bu).

Berikan Komentar:

%d blogger menyukai ini: