KesehatanPemerintahanUmum

Adanya Dugaan Salah Diagnosa, Abdul Latif Sambangi RSU Mitra Medika

MEDAN | MIMBARRAKYAT.ID – Anggota DPRD Medan, Abdul Latif Lubis MPd menerima aduan dari warga Patumbak, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) terkait adanya dugaan salah diagnosa.

Di mana dalam aduan tersebut, Aida mengadukan bahwa telah terjadi dugaan kecurangan yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Umum (RSU) Mitra Medika yang berada di Jalan Sisingamangaraja Medan kepada suaminya, Jalaluddin Lumban Tobing, Senin (21/09/2020).

Dalam aduan tersebut, Latif mengatakan kalau korban Jalaluddin (45) dirujuk dari Rumah Sakit Umum Haji Medan ke Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan dengan diagnosa gagal ginjal pada, Jumat (11/09/2020).

Pada saat korban ditangani oleh pihak Rumah Sakit Mitra Medika Medan, Aida selaku istri korban diberi penawaran jika korban ingin ditangani, maka istrinya harus menandatangani surat pernyataan.

“Dengan rasa panik dan tidak merasa curiga, serta tanpa membaca dengan benar isi surat istrinya langsung menandatangani surat pernyataan tersebut. Ternyata isi suratnya menyatakan bahwa korban adalah mengidap Covid-19, inikan sudah gak benar, “ujarnya.

Tidak sampai di situ, setelah penandatanganan surat pernyataan itu korban langsung dimasukkan ke ruangan isolasi Covid-19. Pada Sabtu (12/09/2020) pagi, Aida dikabari pihak rumah sakit bahwa kondisi suaminya semakin parah dan siangnya meninggal dunia yang dimakamkan sesuai dengan protokol Covid-19.

Lima hari berselang dari tanggal kematian korban. Hasil swab korban keluar dan menyatakan korban negatif dari Covid-19. “Ini mencurigakan masak korban negatif Covid-19 dinyatakan Covid -19 dan diisolasi,”geramnya.

Di hari yang sama, Senin (21/09/2020) anggota Pansus Covid -19 DPRD Medan, Abdul Latif ini pun langsung berkunjung ke Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan dengan didampingi istri korban. Di sana Latif bertemu dengan salahsatu pihak rumah sakit yang namanya tidak ingin dimuat.

Advertisement

Dari hasil pertemuan itu, pihak rumah sakit membantah telah melakukan penjualan organ tubuh korban yang selama ini dituduhkan keluarga korban kepada pihak rumah sakit. Tidak sampai di situ, pihak rumah sakit juga tidak bisa memberikan konpensasi berupa bantuan dana untuk keluarga korban.

Hanya saja, pihak rumah sakit bersedia memberikan surat keterangan bahwa korban meninggal bukan karena positif Covid -19. “Kami pihak rumah sakit bersedia memberikan surat keterangan bahwa korban meninggal bukan karena Covid-19 melainkan karena penyakit gagal ginjal, “ujarnya.

Dengan adanya hasil swab negatif Covid-19, Latif mengaku tidak bisa berbuat banyak terhadap keluarga korban. Karena dengan adanya hasil swab tersebut bantuan dari Kemensos (Kementerian Sosial) sebesar Rp 15 juta bagi korban terpapar Covid-19 tidak bisa dijalankan.

“Dengan adanya hasil swab yang menyatakan korban negatif, maka kita tidak bisa menjalankan program bantuan sebesar Rp 15 juta itu, jadi buyar semuanya, “ujar Latif.

Latif pun menjelaskan bahwa bantuan Kemensos bagi korban meninggal terpapar covid sebesar Rp15 juta sangat lemah. Kurangnya sosialisasi dari dinas sosial baik tingkat provinsi maupun dinas sosial Medan terkait adanya santunan dana korban Covid-19.

“Menurut aturan dari menteri kesehatan, korban positif Covid-19 berhak medapatkan santunan sebesar Rp15 juta bagi korban yang meninggal dunia dan akan diberikan kepada ahli waris korban Covid-19 tersebut. Hal ini yang akan kita perjuangkan untuk kasus seperti ini ke depannya, “ujarnya. (VIN/SRW)

Advertisement
Berikan Komentar:

Back to top button