Ekbis

Virus Corona dan Geopolitik di Timur Tengah Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Global

MEDAN | MIMBARRAKYAT.ID – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyatakan tensi geopolitik di Timur Tengah yang meningkat antara Amerika Serikat dengan Iran, serta ancaman perlambatan ekonomi Tiongkok pasca merebaknya virus Corona semakin menambah ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global.

“Penyebaran Virus Corona berisiko mempengaruhi perekonomian global dapat kita lihat dari estimasi para pakar. Seperti dari ekonom China, Zhang Ming kalau tingkat pertumbuhan China diprediksi akan turun di bawah level 5 persen lebih rendah dari tahun sebelumnya 6 persen (Disetahunkan) pada Q1-2020. Lalu UOB Group berasumsi Virus Corona bertahan selama 6 bulan, perekonomian Tiongkok tahun 2020 diprediksi menurun 0,5 -1,0 persen dari proyeksi pre-virus. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Singapura diprediksi menurun 0,5-1,0 persen dan Indonesia sendiri menurun 0,1- 0,2 persen terhadap proyeksi pre-virus ini, “papar Kepala Perwakilan BI Sumut, Wiwiek Sisto saat Bincang Bareng Media (BBM) di Jalan Uskup Agung, Kota Medan, Provinsi Sumut, Senin (10/02/2020).

BACA JUGA :   Warga Palas Resahkan Mahalnya Harga Gas 3 Kg

Meskipun adanya ancaman terhadap pertumbuhan ekonomi global sambung Wiwiek, perbaikan ekonomi global di tahun 2020 akan diiringi dengan peningkatan harga berbagai komoditas. “Harga CPO disinyalir meningkat didorong oleh keterbatasan stok di tengah peningkatan permintaan, baik dari negara penghasil maupun negara lainnya. Di samping itu, harga kopi dan dan aluminum juga mengalami perbaikan, “terangnya.

Untuk memperkuat momentum pertumbuhan dan mempertahankan stabilitas, dirinya juga mengatakan ada beberapa fokus kebijakan yang telah diambil berdasarkan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2020 seperti kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran, stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Kemudian strategi operasi moneter terus ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

BACA JUGA :   JW Marriott Medan Siap Goyang Lidah Tamu di Ayo Makan Street Food Festival

Kebijakan makroprudensial yang akomodatif ditempuh untuk mendorong pembiayaan ekonomi sejalan dengan siklus finansial yang di bawah optimal dengan tetap memperhatikan prinsi kehati-hatian. Kemudian kebijakan sistem pembayaran dan kebijakan pendalaman pasar keuangan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, Bank Indonesia akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif untuk menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi. Koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan Otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan
stabilitas ekonomi, mendorong permintaan domestik serta meningkatkan ekspor, pariwisata dan aliran masuk modal asing termasuk Penanaman Modal Asing (PMA), “ungkapnya.

BACA JUGA :   Tawarkan Promo Menarik, 8 Merk Ternama Siap 'Bius' Pengunjung GIIAS Medan

Selain itu, dirinya juga memberitahukan kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2019 tetap berdaya tahan di tengah kinerja perekonomian dunia yang melambat yakni 5,02 Persen.

“Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang tetap baik. Sedangkan kinerja ekspor menurun. Perkembangan keseluruhan tahun 2019 dicapai setelah pada triwulan IV 2019
pertumbuhan ekonomi tercatat 4,97 persen, “katanya. (sarwo)

Berikan Komentar:
Tags
Check Also
Close
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: