Ekbis

Soal Pembatasan Truk Angkutan Khusus Pelabuhan, Begini Kata CIFOR dan JITU

BELAWAN | MIMBARRAKYAT.ID – Tim Jeli, Independent, Toleran, Ukur (JITU) menyatakan kalau kerusakan jalan diakibatkan Over Dimension dan Over Load (ODOL) yang sangat merugikan Indonesia secara nasional.

Hal itu disampaikan Ketua Tim JITU Erwin Ubrandi Tambunan, SE melalui Sekretarisnya, Firman Kurniawan saat menanggapi pernyataan wartawan terkait pembatasan truk angkutan khusus pelabuhan atau/peti kemas yang beroperasi di tahun 2005 ke bawah.

“Perkerasan jalan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) dan Pemko Medan kemungkinan didesain dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 8,16 ton tiap As. Jadi rata-rata kendaraan barang triple axle yang melintas hanya boleh maksimum 21 ton berikut muatannya, “ungkapnya, Minggu (02/08/2020).

BACA JUGA :   Mahalnya Harga Cabai Merah Penyebab Inflasi di Sumut, Wagubsu : Bentuk BUMD Pangan

Kalau mau lebih masih menurut Firman, maka harus tambah axle atau menggunakan kereta tempelan. Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) DPP Lembaga Swadaya Masyarakat Coruption Indonesia Funtionary Observation Reign ( LSM CIFOR), melalui Sekjennya, Ismail Alex MI Perangin-angin saat ditanya wartawan secara terpisah enggan berkomentar mengenai pembatasan truk angkutan khusus yang beroperasi di tahun 2005 ke bawah di Pelabuhan Belawan, karena saat ini Tim Investigasi dan Monitroing LSM CIFOR masih melakukan pemantauan dan informasi hasil gelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi B DPRD Sumut.

Advertisement
BACA JUGA :   Ini Kata Pengamat Tata Kota Soal Sengkarut Masalah Aset Medan

Bahkan dirinya mengalihkannya sembari mengatakan kalau kontainer atau peti kemas sudah standarisasi ISO dan kapasitas muatannya adalah antara 20an sampai 30an ton. Jadi, rata-rata berat kontainer berikut muatan berkesaran 24 sampai 34 ton.

“Kendaraan pengangkut peti kemas diatur khusus, yaitu menggunakan satu unit kendaraan penarik (Head tractor) dan satu unit kereta tempelan sesuai dengan kapasitas kontainer mulai dari 20 feet sampai 40 feet, bukan menggunakan truck deck,” kata Ismail Alex seraya menambahkan instansi pemerintah terkait seperti Gubernur Sumatera Utara dan Walikota Medan dan Pimpinan Otoritas Pelabuhan Belawan dan Pimpinan Syahbandar Pelabuhan Belawan, kemungkinan saja telah melakukan sosialisasi kepada perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan seluruh pengusaha angkutan khususnya pengusaha Pelindo  I dan pengusaha truk angkutan khusus, bahwasanya penggunaan truck deck masuk ketegori (Melanggar) ODOL, karena MST jalan hanya 8 ton. Untuk itu, angkutan peti kemas haruslah menggunakan head tracktor berikut kereta tempelan. (irwan pane)

BACA JUGA :   Pemko Medan Apresiasi Peluncuran QRIS Bantu Permudah Pedagang Transaksi

Advertisement
Berikan Komentar:

Tags
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: