Daerah

Petani Sawit Sei Torop Harapkan Bantuan Disbun Simalungun, Ini Alasannya

SIMALUNGUN  |MIMBARRAKYAT.ID –  Sekitar di Bulan Agustus 2019 lalu,  APKASINDO Simalungun melakukan kerjasama kemitraan dengan Kelompok Tani Sawit Nagori Seitorop, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan melakukan tanaman ulang Pohon Sawit milik para petani.

Sayangnya, para petani Sawit Nagori Seitorop ini malah merasa tertipu oleh janji manis para pengurus APKASINDO Simalungun.  “Awalnya APKASIDO Simalungun berjanji akan memberikan bantuan sebesar Rp 25 juta/hektar untuk tanaman ulang kebun Sawit milik kami, dana tersebut dikelola koperasi, “kata Sukandar saat ditemui wartawan, Selasa (01/09/2020).

Namun pelaksanaan tanaman ulang kebun Sawit dinilai amburadul, bibit sawitnya mungkin tidak memiliki sertifikat. Sehingga banyak yang mati, hingga saat ini tidak di lakukan penyisipan. “Kami berharap Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Simalungun dan DPRD daerah pemilihan Kecamatan Bosar Maligas untuk segera turun tangan membantu kami, sebab saat ini kami sangat-sangat terjepit, “jelasnya.

Keluhan juga disampaikan oleh Benget saat ditemui dengan para anggota kelompok tani lainya yang juga merasa tertipu. “Setelah tanam ulang, janji APKASINDO Simalungun akan memberi pinjaman sebesar Rp 30 juta/hektarnya, dana itu akan digunakan untuk pemeliharaan tanaman sampai masa panen. Namun kami tertipu, sebab sampai saat ini janji pinjaman itu tak direalisasikan, akhirnya kami para petani yang bermitra dengan APKASINDO Simalungun sangat terjepit, uang tak ada penghasilan tak ada, Pohon Sawit hampir banyak yang mati, “ujarnya seraya berharap agar APKASINDO Simalungun segera melakukan penyisipan Pohon Sawit dan pijaman sebesar 30 juta/hektar itu segera direalisasikan, agar bisa kami gunakan untuk perawatan dan pemupukan.

Advertisement

Menurut Direktur Exsekutif LSM-GRIPE Manaor Silaban, bantuan replanting yang diajukan oleh APKASINDO perlu ada evaluasi terkait dengan produktifitas petani Sawit.

“Ada perbedaan yang mencolok antara produktifitas tanaman perkebunan Sawit yang dikelola perusahaan dengan yang dikelola oleh petani. Jika dikelola mengikuti standar pengelolaan Sawit yang dilakukan perusahaan, petani dapat menikmati keuntungan besar, “Katanya.

Bagi sejumlah petani yang produktifitas tanamannya rendah, mereka kerap terjebak dengan kebutuhan hidup, karena Sawit sudah telanjur ditanam meskipun produktifitas rendah.

Replanting yang dilakukan saat ini sebaiknya juga mengedukasi petani untuk nenanam Sawit dengan cara yang tepat, sehingga produktifitasnya bisa optimal. Kualitas bibit dan pemeliharan sangat berpengaruh saat Pohon Sawit di masa berproduksi, Kelompok Tani Sawit harus diberi pemahaman, apakah bibit yang ditanam suda berkualitas dan ada sertifikat dari PPKS, pemeliharaan seperti perawatan Mikuna (Kacangan), pemupukan dan melakukan pembersihan Gulma pada laham sawit tersebut.

“Jika hanya bantu replating dianggap selesai, para petani yang bermitra akan mengalami dampak negatif pada masa produksi, “jelas Manaor. Sampai berita ini disampaikan pada redaksi, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Simalungun belum dapat ditemui untuk dimintai tanggapannya.(rus)

Advertisement
Berikan Komentar:

Back to top button