Daerah

Hadiri Program Desa Binaan, Wabup Palas : Membawa Kesejahteraan Masyarakat

PALAS | MIMBARRAKYAT.ID – Program Desa Binaan Universitas Sumatera Utara (USU) membawa dampak signifikan bagi perkembangan kesejahteraan dan kebutuhan masyarakat.

Ada dua desa di Padanglawas, Provinsi Sumut yang merupakan desa binaan dari Universitas Sumatera Utara (USU) di antaranya Desa Sayur Matua dan Desa Sayur Mahincat, Kecamatan Aek Nabara, Kabupaten Padanglawas (Palas), Provinsi Sumut, Sabtu (16/08/2020).

Melalui klaster Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU), salahsatunya Penerapan Teknologi Tepat Guna dan Tenaga Surya pada aktivitas usaha masyarakat di desa itu semakin berkembang. Bantuan alat serta pe­latihan manajemen keuangan dan pemasaran yang di­be­rikan Tim Lembaga Pengabdian Pada Masya­ra­kat (LPPM) berdampak positif bagi usaha mikro kecil dan menengah.

Program pengembangan yang dibantu adalah, Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna dan Tenaga Surya, Pada Aktifitas Usaha Masyarakat di Desa Sayur Matua dan Desa Sayur Mahincat, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Kabupaten Palas, Provinsi Sumut.

Kedua Pemdes ini menjalin kerjasama dalam satu tahun ke depan yakni 1. Bidang sistem penyiraman tanaman otomatis tenaga surya pada perkebunan dan budidaya. 2.Green hause. 3. Di bidang pembuatan kompos dari kotoran hewan dan sampah organik, 4. Alat pemberian pakan ikan otomatis, 5. Penyiang gulma dan penggembur tanah, 6. Perangkap hama dan 7. Sistem pengelolaan air serta, 8. Analisis unsur harga tanah adat, 9. Pengembangbiakan BSF (Lalat tentara hitam) sebagai alternative untuk ternak. 10. Penyulingan minyak atsiri skala rumahtangga.

Program binaan ini langsung menyentuh kebutuhan masyarakat desa. Sehingga membawa kebermanfaatan secara nyata. Sehingga kesehatan lingkungan sekitar tetap terjaga. Wakil Bupati Palas, drg H Ahmad Zarnawi Pasaribu saat menghadiri Program Desa Binaan Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Akademisi USU dalam sambutannya  menyampaikan akibat pandemi Covid-19 ini, di seluruh dunia telah membuat pertumbuhan ekonomi semua minus, yang positif hanya satu pertanian, oleh karena itu ternyata, pertanian perkebunan ini tidak berimbas oleh Covid-19, seyogianya Kabupaten Padanglawas di masa Covid-19 ini kita masih biasa saja, aktivitas masih berlangsung seperti biasanya.

Namun secara agro, Kabupaten Padanglawas yang luasnya 4.222, 96 Kilometer persegi, Ini kalau kita bagi 60 persennya adalah hutan, hutan produksi terbatas dan juga hutan induk.

Hanya 40 persen wilayah tanah Kabupaten Padanglawas ini yang bisa kita manfaatkan untuk usaha, untuk masyarakat 296933 jiwa, yang pernah saya bagi hal ini, kita bagi tanah yang 40 persen ini kepada seluruh masyarakat, hanya memiliki bagian setengah hektar perorang, besok dan lusa seterusnya pertambahan penduduk semakin pesat, sebut Wabup lagi.

Advertisement

“Satu hektar tanah kita dengan inovasi bisa hasilnya lebih banyak dari pada puluhan hektar,tentu dengan sentuhan akademisi inilah kehadiran bapak-bapak dan ibu di sini. bagaimana tanah yang 1/2 Ha itu bisa untuk mengelolahnya, contohnya untuk cara pemupukan, kwalitas unsur tanah apa yang cocok ditanami, “sebut Wabup.

“Atas nama pemerintah daerah kami mengucapkan terimakasih dan sangat mendukung program ini, dan akan ditindaklanjuti secara birokrasi antara pemerintah daerah Kabupaten Padanglawas dengan USU, “ujar Ahmad Zarnawi.

Selain itu, diminta teman-teman dari USU yang ada di pertanian hadir di sana untuk berbagai sektor-sektor yang lain, dalam meningkatkan inovasi-inovasi ke depan, karena ini adalah salahsatu inovasi yang disampaikan, pengabdian kepada masyarakat dan tim menyurvei dan mentabulasi aneka kebutuhan pengembangan usaha dimaksud di atas. Berdasarkan hal itu, LPPM kemudian merenovasi tempat usaha pengolahan daging ayam, mendatangkan alat penggorengan ayam yang lebih modern, merenovasi asbes dan lantai tempat usaha sampai menyediakan banner.

Sehingga ke depannya kalau tahun ini dua desa, di tahun depan harus delapan desa, kenapa daerah Aek Nabara atau eks Barumun Tengah (Barteng)  ini dari jaman dulu terkenal dengan ternaknya. Kemudian eks Sosa terkenal dengan perkebunannya, Barumun terkenal dengan pertaniannya dan Sosopan terkenal dengan holtikulturanya, serasa berada dan menyerupai di Brastagi lokasi Padanglawas kita ini, beber Zarnawi.

Jadi, ketika KKN USU nanti datang lagi dari dua desa tersebut kiranya akan bertambah inovasi ke depan ada di eks Barumun Tengah, Sosa, Barumun dan Sosopan harus siap dengan kedatangan KKN USU itu nantinya disambut secara besar-besaran di kabupaten dan harus dipersiapkan apa yang dibutuhkan mereka.

“Bila perlu yang empat zona tersebut harus ada dua desa setiap zona, sehingga kerjasama antara USU dan sentuhan lembut dari akademisi, inilah satusatunya, karena kita tidak perlu membangun dan membeli tanah 1 hektar untuk kebutuhan tersebut, jika sudah disentuh tangan oleh akademisi, setengah hektar itu akan jauh lebih bermanfaat, “ungkap Wabup.

“Berkat Program Desa Binaan USU, sebuah desa yang terpencil dan tertinggal mampu memiliki daya saing dengan daerah lainnya, masyarakat lebih sejahtera karena usaha UMKM menjadi lebih baik dan kesehatan ma­syarakat lebih terjaga dengan kemudahan akses yang diciptakan dan dibangun untuk mensejahterahkan masyarakat, “sambung Wabup.(Margo)

Advertisement
Berikan Komentar:

Back to top button