Daerah

APKASINDO Simalungun Disoal Petani Sawit Sei Torop

SIMALUNGUN | MIMBARRAKYAT.ID – Untuk melakukan tanaman ulang pohon sawit milik warga, sejak 2019 silam lalu Asosiasi Petani Sawit Indonesia (APKASINDO) Simalungun melakukan kerja sama dengan Kelompok Tani Sawit Nagori Seitorop, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun.

Sayangnya, warga menilai APKASINDO telah lalai melakukan pemeliharaan tanaman sawit milik mereka, sehingga Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) yang ditanam banyak yang mati. Bahkan, anggaran yang diperuntukan tanaman ulang sebesar Rp25 juta per hetar diduga tidak digunakan sebagaimana mestinya dan pinjaman Rp30 juta per KK sampai saat ini tidak teralisasi.

“Awalnya APKASIDO berjanji memberikan bantuan sebesar Rp25 juta per hektar pada tanaman ulang sawit milik kami. Namun pemeliharaan TBM kami anggap sangat amburadul, sehingga pohon sawit banyak yang mati dan hingga saat ini tidak dilakukan penyisipan,” terang Sukri.

Anggaran Rp25 juta per hektar meliputi penumbangan pohon sawit, penanaman dan pemeliharaan TBM, pemeliharaan kacangan, pemupukan dan lainnya sampai pohon sawit masuk masa Tanaman Menghasilkan (TM).

“Artinya bila ada pohon sawit yang mati, APKASINDO harus segera melakukan penyisipan agar para petani tidak dirugikan. Sebab tahun tanam dan pemeliharaan yang baik sangat menentukan hasil panen kami para petani. Saat ini kami tidak punya penghasilan, kita berharap APKASINDO segera melakukan pembenahan pada kebun sawit kami agar kami tidak semakin merugi,” jelasnya.

Advertisement

Keluhan juga disampaika oleh Polman Sinaga. Kepada awak media ini, Senin (31/8/2020) Polman mengeluhkan janji dari APKASINDO yang awalnya menjajikan pinjaman sebesar Rp30 juta. Dana itu tentunya bisa berguna untuk makan dan keperluan mendesak kebun sawit milik para petani yang sedang masa TBM.

“Sejak Agustus 2019 sampai saat ini janji pinjaman itu tak direalisasikan. Ahirnya kami para petani yang bekerjasama dengan APKASINDO sangat terjepit, uang tak ada, penghasilan tak ada, pohon sawit hampir separuh mati, sudah pasti kedepan kami akan semakin susah,” sesalnya.

“Kita berharap agar APKASINDO Simalungun segera melakukan penyisipan pohon sawit kami, dan pijaman sebesar Rp30 juta itu segera direalisasikan pada kami,” terangnya.

Dia mengaku, program dari pemerintah pusat sudah dikemas sangat baik. Untuk itu, dirinya kita berharap pengurus APKASINDO Simalungun jangan main-main membantu petani kelapa sawit.

“Kita mau bekerja sama dengan harapan mendapat penghasilan lebih, bukan bekerja sama dan ahirnya jadi merugi,” jelas polman diamini para petani yang lain.

Sampai berita ini disampaikan pada redaksi, Marhat Purba yang disebut-sebut sebagai ketua APKASINDO Simalungun belum berhasil dimintai tanggapan terkait keluhan para petani sawit Nagori Sei Torop. (rus)

Advertisement
Berikan Komentar:

Back to top button